Selasa, 22 April 2008

Pengenalan Seni Ukiyo-e dari Jepang

Kompas - Seni grafis tradisional Jepang, Ukiyo-e, diperkenalkan kepada belasan seniman, guru, dan mahasiswa Yogyakarta. Seni ini menggunakan media kayu, kertas, dan cat air dalam proses pengerjaannya.

Pengenalan workshop seni Ukiyo-e diadakan di rumah seniman grafis Eddi Prabandono di Dusun Wonorejo, Sariharjo, Ngaglik, Sleman, 20-22 Maret. Kegiatan ini merupakan kerja sama antara Cemeti Art Fondation, Japan Fondation, dan Nagasawa Art Park.

"Seni Ukiyo-e ini mulai berkembang di Jepang sekitar tahun 1600 sampai 1860-an. Awalnya, seni ini digunakan masyarakat Jepang untuk bercerita tentang kehidupan keseharian mereka," tutur Eddi Prabandono, selaku instruktur dalam workshop itu.

Dalam perkembangannya, Ukiyo-e dipakai masyarakat setempat untuk ilustrasi dalam poster kabuki dan drama, serta ilustrasi dalam novel dan buku. Meski berkembang sejak lama di Jepang, Eddi memperkirakan seni ini belum pernah masuk ke Indonesia.

Dibandingkan seni cukil kayu (woodcut) yang selama ini berkembang di Indonesia, Ukiyo-e mempunyai kekhasan karena memakai cat air untuk pewarnaannya, sedangkan seni cukil kayu yang selama ini ada memakai cat minyak.

A Anzieb, concept project workshop, mengatakan Ukiyo-e ini memungkinkan para seniman leluasa untuk bermain gradasi warna dengan mengatur kandungan air dalam cat yang akan mereka bubuhkan di cukilan kayu.

"Jika proses pembubuhan warna pada grafis menggunakan rol, pembubuhan warna pada Ukiyo-e ini memakai kuas yang kemudian diratakan dengan sikat. Cara ini juga bisa mengontrol gradasi warna," kata Anzieb.

Pada hari pertama workshop, para peserta diperkenalkan dengan Ukiyo- e, dengan memakai bahan-bahan yang asli dari Jepang. Eddi memaparkan, untuk kayu digunakan sejenis triplek yang tebalnya antara 0,5-1 cm. Jika kayu yang digunakan itu tebal, maka seniman bisa memakai kedua sisi kayu untuk dicukil.

Alat pencukil juga berasal dari Jepang. Menurut Eddi, alat cukil dari Jepang ini mempunyai kekuatan dan ketajaman yang lebih dibandingkan alat cukil biasa. Ukuran alat cukil ini juga bervariasi, sesuai kebutuhan seniman. Cat air yang dipakai adalah cat poster. Cat ini dilumuri di permukaan kayu dengan kuas dan kemudian diratakan dengan sikat khusus.

Setelah itu, kertas khusus yang disebut washi diletakkan di atas kayu yang sudah dilumuri cat. Washi mempunyai karakteristik kuat, tidak mudah sobek, tipis, dan mudah menyerap air. Harga kertas ini relatif mahal, antara Rp 30.000-Rp 100.000 untuk ukuran 70 x 100 cm. Untuk mendapatkan hasil yang sempurna, kertas yang masih menempel di cetakan kayu ini diratakan dengan baren. Baren ini berbentuk lingkaran yang dilapisi kulit bambu. Setelah selesai, kertas siap diangkat dan diangin-anginkan sejenak agar cat betul-betul kering.

"Pada hari kedua dan ketiga, kami ingin menggali bahan pengganti yang ada di sekitar kita agar Ukiyo-e ini bisa digunakan di Indonesia, tanpa harus tergantung dengan bahan-bahan dari Jepang. Maklum, harga bahan dari Jepang ini relatif mahal," ujar Anzieb. (ART)/kompas/

Tulisan Boneka Jepang

Berawal dari kesempatan menempuh jenjang S2 Public Policy di Tokyo, Jepang pada kurun waktu 2001-2003, Anthon Novianto pun akhirnya ‘jatuh cinta’ pada boneka. Ia lantas tertarik untuk mengoleksi berbagai jenis boneka. Itu memang bisa dimaklumi, karena di negeri sakura tersebut, yang namanya boneka memang bagus-bagus, berkualitas, unik, banyak model serta jenisnya. Apalagi baik boneka modern atau tradisional sangat mudah ditemukan di berbagai toko. Bukan hanya di situ, boneka-boneka bekas dengan kualitas masih bagus pun gampang dijumpai di garage sale yang digelar secara periodik di berbagai tempat.

“Di Jepang, jika orang membeli barang baru, biasanya barang yang lama dijualnya. Hampir setiap minggu di sana ada flea market (pasar loak), lokasinya pun berpindah-pindah. Namanya juga pengin buang barang, jadi di flea market, harganya misa menjadi lebih murah!” ujar Anthon. Dikatakannya, harga sebuah boneka bisa mencapai Rp 800.000, bahkan satu set boneka bisa mencapai sekitar Rp 40 juta. “Yah, kalau misalnya di toko harganya 3.500 yen, di pasar loak bisa dibeli dengan harga 1.000 yen. Dan jangan salah, loakan di Jepang, barang-barangnya masih seperti baru, bukan seperti di negeri kita, barang loak ya identik dengan lusuh!” ujarnya lagi.

Jika mengoleksi boneka awalnya sekadar untuk lucu-lucuan, bagi Anthon kini sudah menjadi bagian dari hobinya. Itulah sebabnya, sela-sela waktunya di kampus sering ia gunakan untuk berburu boneka. Sebagian hasil buruannya dipajang di tempat tinggalnya, sebagian lainnya dikirim ke tanah air. Tak jarang pula, jika ada warga Indonesia berlibur ke Jepang dan ingin membali boneka, Anthon menjadi pemandunya. Sebagai kolektor boneka, Anthon pun kemudian fasih menceritakan masing-masing koleksinya, termasuk hal-hal yang melatarbelakangi. Ia pun juga rela berbagai pengelaman tentang tips merawat boneka.

Ketika kemudian selesai kuliah dan pulang ke tanah air, hobi mengoleksi boneka Jepang itu belum juga surut. Meski kini ia telah mengumpulkan ratusan jenis boneka, ia masih sering menambah jumlahnya, lewat bantuan teman-teman. Dalam salah satu kesempatan belum lama berselang, Anthon pernah pula memamerkan koleksinya itu di The Japan Foundation, Jakarta. Penonton pun banyak yang berdecak mengagumi produk Jepang yang memang unik dan lucu-lucu itu.■ teks/foto: nida
Terakhir Diperbaharui ( Sunday, 20 April 2008 )